Sekolah memiliki peran strategis dalam menciptakan
aturan dan budaya positif yang mendukung nilai hormat. Tata tertib yang jelas,
etika berkomunikasi, serta kebiasaan saling menghargai perlu diterapkan secara
konsisten. Budaya positif ini tidak hanya tercermin dalam aturan tertulis,
tetapi juga dalam praktik sehari-hari, seperti cara siswa menyapa guru, menjaga
kebersihan kelas, dan menghormati pendapat orang lain. Dengan dukungan seluruh
warga sekolah, nilai hormat dapat menjadi bagian dari identitas sekolah yang
berkelanjutan.
Sebagai contoh praktik baik, sekolah dapat
mengadakan program “Apresiasi Guru”. Program ini bisa berupa kegiatan
rutin di mana siswa menyampaikan ucapan terima kasih, memberikan karya
sederhana, atau menuliskan refleksi tentang peran guru dalam hidup mereka. Hal
ini memperkuat ikatan emosional antara guru dan siswa serta menumbuhkan rasa
bangga terhadap profesi guru. Selain itu, sekolah dapat menyelenggarakan kelas
etika, di mana siswa diajak berdiskusi tentang sopan santun, nilai moral,
dan cara berinteraksi yang baik. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya
memahami konsep hormat secara teoritis, tetapi juga mempraktikkannya dalam
kehidupan nyata. Bukan mengajarkan murid menghakimi guru alih-alih kebebasan
berpendapat.
Dengan menanamkan nilai menghormati guru sejak
dini, memperkuat aturan sekolah, dan melaksanakan program apresiasi serta kelas
etika, sekolah dapat membangun budaya hormat yang kokoh. Budaya ini akan
menjadi bekal berharga bagi siswa dalam menghadapi kehidupan, sekaligus
memperkuat peran sekolah sebagai pusat pembentukan karakter.
